Select Page

PKPA Gelar FGD Analisa Potensi Bencana ke Masyarakat Lancang Paru Pidie Jaya

PKPA Gelar FGD Analisa Potensi Bencana ke Masyarakat Lancang Paru Pidie Jaya

WI | PIDIE JAYA. Desa Lancang Paru Kecamatan Bandar Baru Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh letaknya berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Lancang Paru merupakan salah satu desa terparah dihantam oleh gelombang tsunami akhir tahun 2004 yang lalu. Kemudian pada tanggal 7 Desember 2016 yang lalu Lancang Paru juga merupakan salah satu desa yang terdampak dari gempa bumi 6,5 SR dengan kedalaman 15 km.

Melihat pentingnya upaya kesiapsiagaan masyarakat Lancang Paru terhadap ancaman bencana, PKPA yang didukung oleh Mercy Relief memberikan pelatihan kepada komunitas masyarakat tentang pengurangan risiko bencana. Sehingga masyarakat Lancang Paru akan hidup harmonis dengan bencana.

Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) melalui dukungan Mercy Relief yang telah memulai beberapa tahapan kegiatan pada proyek Resilient Aceh untuk membangun ketangguhan dan kesiapsiagaan komunitas masyarakat melalui manajemen pengurangan risiko bencana mulai memasuki tahapan kegiatan-kegiatan pelatihan, salah satunya adalah Fokus Grup Diskusi (FGD) Partisipatif, Kerentanan dan Kapasita Assessment (PVCA). FGD ini berlangsung 2 hari yaitu tanggal 16 dan 17 Oktober 2018 di Meunasah Lancang Paru, Pidie Jaya.

Ismail Marzuki selaku manajer program menyampaikan bahwa  pelatihan tersebut akan memberikan pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana kepada masyarakat. Sehingga masyarakat akan lebih sigap terhadap ancaman bencana sewaktu-waktu terjadi.  Fokus Grup Diskusi ini difasilitasi oleh Satria dan Aswadi.

“Bahwa FGD ini untuk membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat secara langsung untuk menganalisis kerentanan dan kapasitas masyarakat terhadap risiko dan potensi  bencana. Dalam FGD ini masyarakat  memberikan pengalaman pada saat bencana yang lalu serta memetakan wilayah-wilayah rentan dan menggali informasi tentang jalur evakuasi pada saat terjadinya gempa bumi dan tsunami di tahun 2004 yang lalu.” Ungkap Aswadi selaku penanggungjawab acara. (TRDC/As)

About The Author