Select Page

Kenangan Saat Menjadi Santri di Sebuah Pondok Pesantren

Kenangan Saat Menjadi Santri di Sebuah Pondok Pesantren

Oleh Cut Ricky Firsta Rijaya
Kader Muda Muhammadiyah Aceh

Mengingat cerita 15 tahun yang lalu, kira – kira sekitar tahun 2006 – 2009 penulis (saya;red) pernah menjadi salah seorang santri di sebuah dayah modern di Kota Banda Aceh.

Pengalaman saya saat menjadi seorang santri memiliki cerita dan kesan yang tidak mudah saya lupakan sampai saya tua nanti. Banyak suka dan duka selama saya menjadi seorang santri. Yang mana cerita ini tidak akan saya dapatkan kalau saya tidak pernah menjadi seorang santri.

Saya santri Dayah Modern Darul Ulum dan mengeyam pendidikan Formal dan Non Formal juga disana. Walaupun hanya menjadi santri selama 3 tahun saja, yaitu semasa SMP, namun banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan.

Pengalaman selama saya mondok adalah jauh dari orang tua dan selama saya mondok yang ada dalam pikiran saya bahwa hidup seperti didalam penjara saja.

Saya masuk Dayah Modern Darul Ulum itu seusai saya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar saya di MIN 1 Banda Aceh pada tahun 2006, saya juga tidak mengerti mengapa saya bisa menjadi seorang santri. Apakah waktu itu keinginan saya sendiri atau ada dorongan dari orang tua untuk mondok.

Tahun – tahun pertama saya saat itu bahwa hidup di Pasantren bagaikan hidup didalam penjara, alasannya adalah akses kita dengan dunia luar terbatas dan selama mondok saya dan tidak dibenarkan membawa alat komunikasi.

Namun, selain rasa tidak enaknya selama saya menjadi santri, namun ada juga sisi enaknya, yaitu kebersamaan dengan santri – santri lainnya, seperti makan bersama, tidur bersama, berolahraga bersama serta beribadah pun dilakukan secara bersama – sama di masjid, namun ya tetap dipisah antara santri laki – laki dengan santri yang perempuan, hehehe.

Selama saya mondok juga ada dua bahasa internasional, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Arab. Untuk berkomunikasi sehari – hari setiap santri di pondok tersebut juga diwajibkan menggunakan kedua bahasa ini, namun bukan berarti selama mondok tidak boleh menggunakan bahasa Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia tetap diizinkan.

Namun ada hari – hari, setiap santri diwajibkan berbahasa Inggris dan Arab. Banyak pengalamanan yang saya dapatkan selama saya menjadi seorang santri, pengalaman ini yang tidak mungkin saya dapatkankan seandainya saya tidak menjadi santri.

Saya bangga pernah menjadi santri, saya banyak belajar mengenai hal – hal baru, pendidikan agama yang lebih banyak serta serunya belajar mengenai hidup bersama dengan santri – santri yang lain.

Terima kasih kepada ibuku yang sudah menitipkan anakmu ini di dayah Modern Darul Ulum, sekarang saja baru sadar bahwa mondok itu penting, walaupun akses dengan dunia luar dibatasi.

Sebagai mantan santri saya juga ingin mengucapkan “Selamat Hari Santri Nasional 2020, dengan tema Santri Sehat Indonesia Kuat”. Saya pernah menjadi santri dan saya bangga menjadi santri. Nah!

About The Author

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pojok Update

Android

Download Aplikasi android: