Select Page

Harga Minyak Naik Didukung Pengurangan Produksi Arab Saudi

Harga Minyak Naik Didukung Pengurangan Produksi Arab Saudi

WI | Jakarta,- Harga minyak mentah pada perdagangan siang hari ini, Rabu (13/2/2019) semakin menguat. Hingga pukul 11.30 WIB, harga minyak jenis Brent kontrak April naik sebesar 1,03% ke posisi US$ 63,06/barel, setelah juga menguat 1,48% kemarin.

Sementara harga minyak jenis lightsweet (WTI) kontrak Maret juga menguat sebesar 1,02% ke level US$ 53,64/barel, setelah ditutup naik 1,32% pada perdagangan kemarin.

Selama sepekan harga minyak melemah 0,05% secara point-to-poin, sedangkan sejak awal tahun, harga si emas hitam masih naik sekitar 17%.

Meningkatnya harga minyak mentah hari ini dipengaruhi laporan bulanan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang dirilis kemarin.

Dalam laporannya, OPEC mengatakan bahwa produksi minyak mereka pada Januari terpangkas 797.000 barel/hari, atau hampir memenuhi kuota kesepakatan yang sebesar 800.000 barel/hari.

Sebagai informasi, total produksi minyak OPEC di Januari mencapai 30,8 juta barel/hari, turun dari Desember sebesar 31,6 juta barel/hari.

Arab Saudi sebagai pemimpin de facto OPEC memiliki andil terbesar dalam pemangkasan produksi OPEC, yaitu sebesar 350.000 barel/hari.

Bahkan Menteri Arab Saudi, Khalid al-Falih mengatakan negerinya akan mengurangi pasokan hingga menyentuh level 9,8 juta barel/hari pada Maret dalam sebuah artikel Finansial Times yang dipublikasikan kemarin, mengutip Reuters.

Sebagai Informasi, jumlah produksi acuan kesepakatan pengurangan pasokan OPEC bersama sekutunya adalah produksi pada Oktober 2019, di mana Arab Saudi berada pada level 10,64 juta barel/hari.

Artinya Arab Saudi akan secara sukarela menambah kuota pengurangan pasokan minyaknya lebih dari 500.000 barel/hari. Sebagai informasi, dalam kesepakatan yang dibuat pada awal Desember silam, jatah pengurangan produksi minyak Arab Saudi hanya sebesar 322.000 barel/hari.

Kabar ini sontak membuat pasar semringah. Pasalnya jika sudah serius seperti ini, kemungkinan terciptanya keseimbangan fundamental (pasokan-permintaan) di pasar minyak dunia semakin besar.

Namun, OPEC juga kembali memangkas prediksi permintaan minyak dari organisasi tersebut di tahun 2019 menjadi 30,59 juta barel/hari, turun 240.000 barel/hari dari prediksi sebelumnya.

Kabar baik juga datang dari Amerika Serikat. American Petroleum Institute melaporkan bahwa inventori minyak mentah AS untuk minggu yang berakhir pada 8 Februari di pusat distribusi Cushing, Oklahoma berkurang 502.000 barel, dibanding minggu sebelumnya, mengutip Reuters.

Tapi mengingat produksi minyak AS terus meningkat hingga saat ini, pelaku pasar juga masih dihantui oleh banjir pasokan dari Negeri Paman Sam.

Bahkan kemarin, lembaga resmi pemerintah AS, Energy Information Administration (EIA) mengatakan bahwa produksi minyak AS diprediksi mencapai 13,2 juta barel/hari pada 2020, seperti yang dilansir dari Reuters.

Sumber : cnbcindonesia.com

About The Author

Ian Manurung

Redaktur Ekeskutif Tlpn/WA : 08888917522 / 085261780596 email: redaksi@wahanaindonesia.com

Social Media

Kategori

Android

Download Aplikasi android: