Select Page

Simplikasi Ekspor Kendaraan Bermotor Dalam Bentuk Jadi (CBU) Dongkrak Pertumbuhan Ekspor dan Minimalisasi Biaya Logistik

Simplikasi Ekspor Kendaraan Bermotor Dalam Bentuk Jadi (CBU) Dongkrak Pertumbuhan Ekspor dan Minimalisasi Biaya Logistik

WI | Jakarta,- Sebagai bagian dari komitmen perseroan untuk mewujudkan pengelolaan terminal kendaraan kelas dunia yang unggul dalam operasional dan pelayanan serta sebagai upaya perseroan untuk mewujudkan nilai-nilai perusahaan terutama Action, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) turut berpartisipasi dalam program pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea Cukai untuk memberikan kemudahan ekspor kendaraan melalui Penerapan Sistem Pintu Otomatis Tempat Penimbunan Sementara (Auto Gate System).

Launching acara ini dilaksanakan pada hari Selasa, 12 Februari 2019 di Terminal Internasional, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk, dengan Tema “Simplifikasi Ekspor Kendaraan Bermotor dalam Bentuk Jadi (CBU)”, ujar Kahumas IPCC Sophian Gumelar dalam press release ya. Acara ini dihadiri oleh Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani dan Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution.

Lanjutnya, Sistem Auto Gate (SAG) tersebut merupakan implementasi dari Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor PER – 56 / BC / 2012 tentang Ujicoba Penerapan Sistem Pintu Otomatis Tempat Penimbunan Sementara (Auto Gate System).

Terkait dengan aturan tersebut, perseroan merupakan bagian dari tempat penimbunan sementara (TPS), khususnya TPS untuk kendaraan dan sejenisnya. Dalam aturan tersebut, Tempat Penimbunan Sementara yang selanjutnya disingkat dengan TPS adalah bangunan dan/atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan itu di kawasan pabean untuk menimbun barang sementara menunggu pemuatan atau pengeluarannya.

Dengan adanya aturan tersebut maka pemasukan barang ke TPS dilakukan melalui Sistem Pintu Otomatis TPS setelah mendapatkan persetujuan dari Pejabat Bea dan Cukai atau sistem komputer pelayanan. Adapun persetujuan yang dimaksud, diantaranya meliputi Nota Pelayanan Ekspor (NPE); Persetujuan Konsolidasi Barang Ekspor (PKBE); persetujuan pemasukan barang asal dalam daerah pabean yang dikirim ke tempat lain dalam daerah pabean melewati tempat di luar daerah pabean; atau persetujuan pemasukan lainnya.

Di sisi lain, sehubungan dengan pelayanan dan pengawasan kepabeanan ekspor, diatur bahwa Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) dapat disampaikan paling lama tujuh hari sebelum tanggal perkiraan ekspor dan paling lambat sebelum barang ekspor masuk ke kawasan pabean.

Terkait dengan jumlah dan jenis barang serta nomor peti kemas/ VIN Barcode Kendaraan dapat dilakukan perubahan sebelum barang ekspor dimasukkan ke kawasan pabean pelabuhan muat. Eksportir produk otomotif berupa kendaraan bermotor CBU mengusulkan adanya relaksasi terkait ketentuan pengajuan PEB dan perubahan data PEB sebelum masuk ke kawasan pabean.

Usulan tersebut berdasarkan pada proses bisnis perdagangan otomotif yang memerlukan proses grouping atau pengelompokan ekspor yang sangat kompleks, seperti berdasarkan waktu keberangkatan kapal, negara tujuan, vehicle identification number (VIN), jenis transmisi, sarana pengangkut, waktu produksi, dan lain-lain.

Usulan tersebut sangat didukung oleh PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC) yang merupakan Terminal Kendaraan terbesar ke-3 se-Asean, dan 27 Dunia. Lebih lanjut lagi, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk sebagai satu-satunya tempat penimbunan sementara khusus untuk penimbunan barang ekspor berupa kendaraan roda empat CBU tanpa menggunakan peti kemas.

Tentunya aturan tersebut memberikan keuntungan bagi perseroan, terutama dari sisi peningkatan jumlah kendaraan yang akan ditampung di areal perseroan. Adapun benefit terhadap kemudahan ekspor tersebut, menurut Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani, yàkni,  untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi pelayanan ekspor kendaraan bermotor CBU sehingga membantu menurunkan biaya logistik secara langsung dengan mengakomodasi kebutuhan perusahaan untuk dapat menggeser lokasi penumpukan barang ekspor ke kawasan pelabuhan atau terminal kendaraan.

Mengurangi kerusakan kendaraan yang diekspor akibat double handling car carrier, membantu peningkatan ekspor Kendaraan dan menjadikan Indonesia sebagai negara produsen kendaraan terbesar di Asia Tenggara dan 12 besar dunia yang menjadi basis ekspor kendaraan ke seluruh dunia, ujarnya.

Tambahnya, menjadikan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk sebagai terminal kendaraan terbesar di ASEAN dan 10 besar dunia. Hingga awal tahun 2019, perseroan memiliki luas lahan penampungan sebesar 34 ha dengan kapasitas penuh sebanyak 780 ribu unit. Saat ini, kapasitas atau utilisasi lahan telah terpakai 521.064 unit.

Menurut Chiefy Adi K, Direktur Utama IPCC, “IPCC menyatakan, siap membangun sistem pengawasan pemasukan barang ekspor ke TPS berdasarkan data VIN yang terkoneksi dengan sistem inventory eksportir dan diusulkan untuk diintegrasikan dengan sistem TPS online DJBC. Tentunya, dengan adanya sistem ini akan memberikan keuntungan bagi perseroan berupa peningkatan kapasitas muat di tempat kami yang merupakan TPS bagi kendaraan”

“Penerapan Auto Gate System ini merupakan upaya untuk memudahkan proses bongkar muat kendaraan. Adanya penerbitan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai menjamin terwujudnya kepastian hukum terkait dengan kewenangan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk melaksanakan pelayanan dan pengawasan ekspor kendaraan CBU mulai dari pemasukan ke kawasan pabean, penyampaian PEB dan pemuatan ke sarana pengangkut.” Indra Hidayat Sani, Direktur Operasi turut menambahkan.

Dengan perkiraan akan terjadi peningkatan kapasitas penampungan kendaraan maka akan positif bagi perolehan pendapatan perseroan. Sugeng Mulyadi, Direktur Keuangan dan SDM menyampaikan,

“Untuk kontribusi ke pendapatan, kami masih akan melakukan perhitungan dan melihat seberapa besar peningkatan kapasitas kendaraan yang ada. Kalau asumsinya, terjadi peningkatan 50 persen dapat memberikan kontribusi ke pendapatan kurang lebih 25 persen dari pendapatan terminal Internasional.”

“Kebijakan ini mendorong PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk untuk segera mempercepat pengembangan lahan penumpukan hingga 89,5  Ha dengan total kapasitas 2,1 juta unit kendaraan dalam 4 (empat) tahun ke depan.” Ungkap Arif Isnawan, Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis. (Benny PS)

About The Author

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

Categories

Android

Download Aplikasi android: